Sindrom Tourette

sindrom tourette - www.biosprayid.com

sindrom tourette

Sindrom touretteGangguan perilaku-perkembangan saraf-kejiwaaan (psychoneu-rogenobehavioral disorder) berbasis neurotransmitter, dicirikan oleh aksti tak disadari, berlangsung cepat, bersifat genetic, di wariskan, onset (awal munculnya tanda/gejala terjadi penyakit) pada masa anak-anak, dan memiliki pola tik vocal dan motor yang menetap atau meanahun.

Epidemiologi

Riset terbaru menunjukkan insiden TS mencapai 1-10 per 1000 orang. Prevalensi sekitar 0,03-3%. Referensi lain menyebutkan pravelensi berkisar dari 1:20.000 hingga 1:2.000 Prevalensi internasional rata-rata 1% di mayoritas kebudayaan dunia. Kenyataannya, banyak kasus ringan yang luput dari perhatian medis. TS dapat mengenai semua ras, lebih dominan pada pria, dengan rasio anak lelaki : anak wanita = 3-5:1.

Baca juga  Jalan Kaki mungkin meningkatkan kualitas tidur penderita kanker paru-paru

Penyebab

Penyebab TS belum diketahui pasti, namun diduga multifactor, meliputi factor neurokimiawi, autoimun, epigenetic, genetika.

Factor neurokimiawi, yaitu lemahnya pengaturan dopamine di nucleus kaudatus yang disertai ketidakseimbangan serta hipersensitivitas terhadap neurotransmitter, terutama dopamine dan serotonin. Supersensitivitas dopamine mengakibatkan penderita TS begitu responsive terhadap penghambat reseptor dopamine atau neuroleptic.

Gejala & Tanda

Gambaran klinis TS berupa tik motor dan vocal, dapat berlangsung selama lebih dari satu tahun, biasanya muncul saat pertandingan atau menyaksikan peristiwa tertentu.

Tik motor dapat sederhana (missal : mata berkedip-kedip tak terkontrol, mengejapkan mata berkali-kali, sering mengangkat-angkat bahu) atau kompleks (missal ; meniru gerakan orang lain atau ekopraksia). Tik motor bisa juga multiple, misal : blinking (mengejapkan mata), grimacing (meringis, menyeringai, atau memainkan ekspresi wajah), jumping (melompat-lompat).

Baca juga  Diabetes tipe 1

Sindrom tourette

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang TS misalnya kuesioner (YGTSS, DICS, dsb), pemeriksaan darah lengkap, pencintraan (MRI, VBM, MTI) dilakukan sesuai indikasi dan bila perlu.

Kuesioner dipakai untuk menegakkan diagnosis dan evaluasi klinis lainnya, seperti menentukan derajat keparahan TS, menetukan terapi, keperluan riset, dsb. Baca juga artikel ini ya : Sindrom Sotos

Terapi/Solusi

Bila gejala ringan, penderita dan anggota keluarganya hanya memerlukan edukasi dan konseling. Berbagai teknik psikoterapi, seperti psikoterapi suportif, terapi kognitif, assertiveness training dan self-monitoring, dapat juga diberikan.

Pendekatan comprehensive behavioral intervention for tics (CBIT), berdasarkan terapi pembalikan kebiasaan (habit revesal training/therapy), efektif mengurangi tik serta perburukan yang berhubungan dengan tik (tics-related impairment) pada anak dan remaja penderita TS dengan tingkat keparahan sedang dan berat.

Baca juga  Korea

Sindrom tourette

Baiklah, terimakasih anda sudah membaca artikel dengan judul sindrom tourette semoga bermanfaat.

Silahkan komen disini