Bersahabat Dengan Diabetes

Bersahabat Dengan Diabetes

Bersahabat Dengan Diabetes - www.biosprayid.com

Bersahabat Dengan Diabetes

Bersahabat dengan diabetes, tidak mau menerima kenyataan bahwa tubuh mengalami diabetes adalah kesalahan yang paling mendasar. Dengan berani bersikap terbuka kepada diri sendiri, jujur, dan menerima penyakit dengan ikhlas, proses pengobatan akan berlangsung lebih cepat dan efektif. (Epie Suryono, penulis ‘Kisah Nyata: Lebih dari 28 Tabun Hidup Bersama Diabetes’).

Vonis Hanya Sebuah Awalan

Ketika seseorang didiagnosis mengidap diabetes, perasaan yang muncul pasti  kaget, rasa takut, tidak berdaya, bingung, dan bahkan penyangkalan. Semua itu muncul karena ketidaksiapan orang untuk menerima hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Selain itu, biasanya penderita membayangkan hal-hal buruk yang telah terjadi pada orang lain dan sekarang ia harus mengalami sendiri. Bayangan sebagian besar adalah hal yang tidak menyenangkan seperti harus mengatur makan, tidak boleh banyak makan, tidak boleh makan yang enak-enak apalagi yang manis-manis atau membayangkan harus selalu minuet obat, dan bahkan harus suntik insulin. Juga, membayangkan komplikasi diabetes seperti kaki yang harus diamputasi.

Pada dasarnya perasaan seperti itu masih wajar apabila hanya dirasakan di awal. Bagaimanapun juga penerimaan itu butuh waktu. Dalam buku On Death and Dying, Elisabeth Kubler Ross menjabarkan beberapa tahapan emosi yang biasanya dilalui seseorang dalam menanggapi vonis sakitnya. Tahapan pertama adalah tahap penyangkalan, di mana pada tahap ini penderita akan menyangkal diagnosis dan akan menarik diri dari lingkungannya.

Tahap kedua yang biasanya dirasakan adalah marah. Pada tahap ini, pasien akan merasa marah pada keadaan lingkungan sekitarnya, dokter atau tim medis. Manifestasi kemarahan dapat berupa penolakan pasien terhadap pemeriksaan, ingin mengganti dokter, atau meminta drop out dari rumah sakit. Perasaan semacam itu juga pernah dirasakan oleh Epie Suryono, penderita diabetes yang telah hidup nyaman dengan diabetesnya selama 28 tahun. Waktu itu, Epie menganggap bahwa hasil tes darah yang telah dijalaninya adalah hasil yang keliru atau bahkan hasilnya tertukar dengan orang lain.

Setelah marah mereda, proses tawar-menawar di dalam hati biasanya dimulai. Pada tahap ini, penderita akan sedikit menyesal ‘mengapa saya yang mendapat penyakit ini’, kemudian ia akan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia akan berbuat lebih baik bila sudah sembuh. Pada saat itu, penderita menjadi lebih dekat dengan dokter nya karena yakin bahwa dokter mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalahnya. Apabila pengobatan tidak sesuai dengan harapannya, maka dokter akan disalahkan dan hubungannya dengan dokter menjadi buruk.

Jika di tahap tawar-menawar timbangan berat sebelah maka akan menjadi depresi. Pada saat itu, penderita akan merasa lelah dengan segala apa yang dialaminya mulai dari segala kesakitan yang dideritanya sampai berbagai pengobatan yang harus  dijalaninya. Kelelahan ini akan menyebabkan dia merasa sangat tertekan dan akhirnya menimbulkan depresi.

Dengan dukungan dan motivasi yang bagus dari lingkungan serta upaya dari diri sendiri untuk menerima semuanya dengan lapang hati, maka akan terwujudlah kehidupan yang tetap baik bagi penderita diabetes. Penderita yang sudah mulai bisa menerima keadaan yang menimpa dirinya akan mempermudah kelancaran terapi karena pasien bersikap kooperatif.

Masing-masing tahap pada proses di atas memiliki batasan waktu tertentu. Beberapa orang mengalami tahap penyangkalan selama kurang lebih dua minggu,  tahap marah dimulai dalam beberapa jam setelahnya dan memuncak selama dua sampai empat minggu. Seseorang yang mengalami kehilangan kesehatannya, secara normal akan melewati proses di atas sesuai tahapan di atas. Proses di atas saling  tumpang tindih dan tidak diketahui urutannya. Tanpa melalui atau setelah melalui satu, beberapa, atau semua tahapan di atas secara berulang-ulang, pada akhirnya penderita akan menerima kenyataan bahwa penyakitnya tidak dapat disembuhkan lagi dan bahwa ia akan meninggal.

Bersahabat dengan diabetes

Dengan memahami tahapan psikologis tersebut, diharapkan penderita akan bisa menilai perasaan dan kesiapan diri sendiri untuk menyiapkan perubahan pola dan gaya hidup yang memang mau tidak mau harus dijalani, agar tercapai kualitas hidup yang bagus. Perlu dipahami juga bahwa gaya hidup berperan besar dalam pembentukan diabetes, tetapi perannya jauh lebih penting untuk merawat diabetes itu sendiri.

Selain itu, keluarga sebagai salah satu pemberi dukungan terbesar bagi penderita hendaknya juga memahami tahapan emosi di atas sehingga bisa dengan sabar menghadapi berbagai sikap negatif yang muncul. Tanpa adanya dukungan, penderita cenderung akan menjadi depresi atau bahkan mengabaikan sama sekali penyakitnya sendiri. Tentunya dua hal tersebut tidak kita harapkan terjadi.

Diabetes adalah penyakit kronik unik yang dipengaruhi oleh setiap aspek gaya hidup, termasuk pola makan, aktivitas fisik, sekolah, kerja bahkan jadwal perjalanan keluar kota. Sebaliknya, semua aktivitas ini juga dipengaruhi diabetes. Sementara penyakit lain dapat diobati dengan mengonsumsi obat, diabetes butuh kewaspadaan dan perhatian terus menerus dalam hal penentuan waktu dan kalori dalam makanan serta aktivitas fisik, pemantauan gula darah, jadwal penyuntikan insulin, sampai perawatan diri dan kaki.  Perlu disyukuri bahwa diabetes adalah penyakit yang mudah ditegakkan diagnosisnya dan bisa dikendalikan. Benar diabetes merupakan penyakit yang berbahaya, namun hal itu terjadi jika tidak dikendalikan dengan baik. Adapun jika peraturan pengobatan, yang tidak terlalu berat, dilaksanakan dengan penuh disiplin, maka keadaan berat itu tidak akan terjadi atau diperlambat terjadinya.

Marilah kita bentuk pola pikir (mind set) yang tidak memandang sakit sebagai musuh atau azab, tetapi melihatnya sebagai sebuah mekanisme tubuh yang bermanfaat untuk membersihkan, menyucikan, dan menyeimbangkan kita sampai pada tatanan  fisik, emosi, mental, dan spiritual. Dengan pandangan seperti itu, berbagai penyakit, termasuk diabetes, akan menjadi teman hidup yang mengingatkan kita untuk menata diri sehingga tetap sehat dan terhindar dari komplikasi. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa vonis itu hanya sebuah awalan dari perjalanan panjang hidup baru bersama DM. It’s just the beginning.

Bersahabat dengan diabetes

Cara untuk menghadapi diabetes adalah kita harus bisa bersahabat dengan diabetes. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda.

Silahkan komen disini